Mandi Darah: Tradisi Unik di Desa Pauh, Muratara untuk Membayar Nazar dan Ungkapan Syukur

Wednesday, 3 July 2024 - 10:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di Desa Pauh, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, terdapat tradisi unik yang dikenal sebagai “Mandi Darah”. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk pembayaran nazar dan ungkapan rasa syukur atas berbagai pencapaian, seperti kelulusan studi, pernikahan, atau pencapaian penting lainnya.

Sejarah dan Makna Tradisi Mandi Darah

Tradisi Mandi Darah di Desa Pauh telah diwariskan secara turun-temurun selama berabad-abad. Asal-usul tradisi ini tidak diketahui secara pasti, namun diyakini berkaitan dengan kepercayaan animisme dan dinamisme yang dianut oleh masyarakat setempat pada masa lalu. Mandi Darah hewan ternak seperti sapi, kambing, atau kerbau dipercaya memiliki makna spiritual dan simbolis. Darah hewan ternak diyakini memiliki kekuatan untuk membersihkan diri dari kotoran dan kesialan, serta membawa keberuntungan dan kesuksesan bagi orang yang menjalani ritual ini.

Baca Juga  Aksara Komering: Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan

Proses Pelaksanaan Tradisi Mandi Darah

Tradisi Mandi Darah biasanya dilakukan setelah acara syukuran, seperti selamatan kelulusan atau pernikahan. Dalam prosesnya, hewan ternak seperti sapi, kambing, atau kerbau disembelih dan darahnya ditampung dalam wadah besar. Orang yang akan menjalani ritual kemudian dimandikan dengan darah tersebut. Ritual ini dilakukan dengan penuh penghormatan dan mengikuti aturan adat yang ketat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pandangan Masyarakat terhadap Tradisi Mandi Darah

Setelah Islamisasi di daerah Sumatera Selatan, mayoritas masyarakatnya meninggalkan kepercayaan lama beserta ritual ini. Saat ini, hanya segelintir masyarakat Muratara yang masih melaksanakan tradisi ini. Di Desa Pauh, ritual ini dikenal dengan sebutan “Merabun Kemean”. Dalam tradisi ini, daging hewan yang disembelih digunakan untuk syukuran dan sebagian dijual ke pasar.

Baca Juga  Menjelajahi Keindahan Alam Sumatera Selatan: Wisata Alam yang Wajib Dikunjungi

Kesimpulan

Tradisi Mandi Darah di Desa Pauh merupakan tradisi unik yang mencerminkan budaya dan kepercayaan masyarakat setempat. Meskipun terdapat kontroversi seiring dengan perubahan kepercayaan masyarakat, tradisi ini masih dilestarikan oleh sebagian masyarakat sebagai bagian dari identitas budaya mereka. Tradisi ini tidak hanya memiliki makna spiritual dan simbolis yang mendalam, tetapi juga merupakan warisan budaya yang penting untuk dijaga dan dihormati.

Dengan memahami dan menghargai tradisi ini, kita dapat melihat betapa kayanya budaya dan kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Desa Pauh dan betapa pentingnya menjaga warisan budaya ini agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.

  • Artikel ini hanya memberikan gambaran umum tentang tradisi Mandi Darah di Desa Pauh, Muratara. Masih banyak cerita dan tradisi menarik yang terkait dengan Puyang yang belum terdokumentasikan.
  • Penting untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk menggali dan melestarikan warisan budaya ini.

——————————————————————————————————————————————————————

Source Image : https://etnis.id/ritual-mandi-darah-di-muratara/
Referensi : Wicaksono (2022) TRADISI MANDI DARAH MENURUT TOKOH ADAT DAN TOKOH AGAMA (STUDI KASUS DI DESA PAUH KABUPATEN MURATARA PROVINSI SUMATERA SELATAN). Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

Editor : Wakhid Alfiyan

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Pemkot Lubuklinggau Terima Bantuan Benih Cabai dan Bawang Merah dari Pemprov Sumsel
Lempok Durian Camilan Khas dari Sumatera Selatan
Mengenal “Kudok” Senjata Tradisional Khas Sumatra Selatan
Tradisi Mandi Pusaka di Sumatera Selatan: Ritual Penyucian Benda Pusaka Penuh Makna
Menelusuri Jejak Puyang di Bumi Seribu Puyang: Warisan Budaya dan Kearifan Lokal di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir
Aksara Komering: Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan
Menjelajahi Keindahan Alam Sumatera Selatan: Wisata Alam yang Wajib Dikunjungi
Tradisi Upacara Adat Mandi Kasai di Lubuklinggau

Berita Terkait

Sunday, 12 November 2023 - 13:56 WIB

6 Kuliner dan Makanan Khas Musi Rawas Yang Wajib Anda Coba

Sunday, 5 November 2023 - 01:26 WIB

Bupati Ratna Machmud Tutup Musi Rawas Festival Tahun 2023

Monday, 12 June 2023 - 12:15 WIB

Satu Rumah Panggung Di Selangit Ludes Terbakar

Sunday, 21 May 2023 - 00:56 WIB

Bupati Musi Rawas Serahkan Bantuan Pembangunan Masjid Sebesar 50juta dan Santunan Anak Yatim

Monday, 17 April 2023 - 06:05 WIB

Polres Musi Rawas Amankan Pencuri Buah Kelapa Sawit

Friday, 31 March 2023 - 17:07 WIB

Bupati Musi Rawas Hj. Ratna Machmud melantik 215 Pejabat

Wednesday, 29 March 2023 - 03:27 WIB

Bupati Musi Rawas Serahkan bantuan Korban Banjir di Desa Semangus

Wednesday, 29 March 2023 - 03:19 WIB

Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Kabupaten Musi Rawas Tahun 2022 Peringkat Pertama Se Sumsel

Berita Terbaru

Sumsel

Lempok Durian Camilan Khas dari Sumatera Selatan

Friday, 5 Jul 2024 - 10:57 WIB

Food & Travel

Mengenal “Kudok” Senjata Tradisional Khas Sumatra Selatan

Friday, 5 Jul 2024 - 10:38 WIB