Mengenal “Kudok” Senjata Tradisional Khas Sumatra Selatan

Friday, 5 July 2024 - 10:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bumi Besemah, yang dikenal sebagai Pagar Alam, terletak di antara keindahan Bukit Barisan dan Gunung Dempo. Nama ini berasal dari suku Pasemah yang telah lama menetap di sana. Sebagai daerah dataran tinggi di Sumatra Selatan, Bumi Besemah terkenal dengan kebun teh dan kopi robustanya. Kopi dan teh tradisional menjadi buah tangan populer bagi para wisatawan. Namun, ada oleh-oleh lain yang kini banyak diminati, yaitu senjata adat tradisionalnya.

Jika Jawa Tengah memiliki keris dan Sulawesi Selatan memiliki badik, Sumatra Selatan, khususnya di daerah Besemah, memiliki kudok sebagai salah satu senjata tradisionalnya. Kudok, atau dikenal sebagai kudok betelugh oleh warga lokal, adalah senjata tajam sejenis parang yang banyak digunakan oleh suku Besemah. Selain di Pagar Alam, kudok juga digunakan di Kabupaten Lahat dan oleh masyarakat Manna di Kabupaten Bengkulu Selatan. Manna dahulu merupakan bagian dari Sumatra Selatan, sehingga banyak penduduknya berasal dari Besemah.

Baca Juga  Menelusuri Jejak Puyang di Bumi Seribu Puyang: Warisan Budaya dan Kearifan Lokal di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir

Anatomi dan Material Kudok

Kudok biasanya digunakan dalam kegiatan sehari-hari, khususnya berkebun. Senjata ini memiliki ujung pisau yang sangat runcing dan pegangan (pulu) yang bulat, yang membuatnya dikenal sebagai kudok betelugh atau kudok bertelur. Kudok dilengkapi dengan sarung (berangke) untuk keamanan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Terdapat sekitar 10 jenis kudok yang berbeda, disesuaikan dengan bentuk dan fungsinya. Jenis kudok yang paling populer adalah betelugh, luncu, gerahan, dan kudok rambai ayam. Material utama pembuatan kudok adalah besi atau baja. Perajin sering menggunakan per mobil dari Jerman dan Italia karena kandungan bajanya yang tinggi. Gagang kudok biasanya terbuat dari kayu jati, sedangkan sarungnya dari kayu limau.

Baca Juga  Tradisi Upacara Adat Mandi Kasai di Lubuklinggau

Gagang dan sarung kudok sering dililit dengan rotan halus yang dijalin rapi. Lilitan ini diperkuat dengan malau, sejenis getah kayu. Untuk memudahkan membawa kudok, sarungnya dilengkapi dengan pengait dari kayu atau tanduk yang dapat dikaitkan pada tubuh sebelah kiri.

Kudok tersedia dalam dua ukuran, yaitu 30-35 cm dan 25-30 cm. Ukuran besar digunakan untuk membelah kayu atau bambu, sementara ukuran kecil, selain untuk membelah kayu atau bambu kecil, juga berfungsi sebagai alat perlindungan diri. Dahulu di Kabupaten Lahat, terdapat istilah “dikuduki” yang berarti ditikam dengan kudok, meskipun istilah ini sekarang jarang terdengar.

Proses Pembuatan Kudok

Kudok masih dapat ditemukan di pasar alat pertanian dan toko oleh-oleh. Proses pembuatannya cukup rumit, dimulai dengan melebur besi sebagai bahan utama, diikuti oleh proses percetakan, pembentukan, dan penempaan sambil dibakar. Bagian belakang kudok lebih tebal, semakin ke ujung makin melengkung dan meruncing, dan bagian tengahnya lebih lebar dari pangkal dan ujungnya. Tanpa pesanan khusus, seorang pengrajin dapat menghasilkan 3 hingga 5 kudok dengan harga sekitar 250 ribu rupiah per buah.

Baca Juga  PGSD Universitas Sriwijaya Siap Menerapkan Implementasi Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar

Berbeda dengan senjata tradisional lainnya yang memiliki makna filosofis atau simbolis, kudok dibuat sebagai alat produksi tradisional dan senjata semata. Kudok juga sering digunakan sebagai ornamen hias di rumah masyarakat, sekaligus sebagai tanda identitas mereka. Jadi, ketika berkunjung ke Gunung Dempo di Sumatra Selatan, jangan lupa untuk mampir ke toko oleh-oleh dan membeli kudok, yang biasanya sudah dirancang dengan kotak kaca untuk pajangan.

Editor : Wakhid Alfiyan

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Pemkot Lubuklinggau Terima Bantuan Benih Cabai dan Bawang Merah dari Pemprov Sumsel
Lempok Durian Camilan Khas dari Sumatera Selatan
Mandi Darah: Tradisi Unik di Desa Pauh, Muratara untuk Membayar Nazar dan Ungkapan Syukur
Tradisi Mandi Pusaka di Sumatera Selatan: Ritual Penyucian Benda Pusaka Penuh Makna
Menelusuri Jejak Puyang di Bumi Seribu Puyang: Warisan Budaya dan Kearifan Lokal di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir
Aksara Komering: Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan
Sejarah dan Warisan Budaya Palembang: Kota Tua yang Menyimpan Seribu Cerita
Menjelajahi Keindahan Alam Sumatera Selatan: Wisata Alam yang Wajib Dikunjungi

Berita Terkait

Sunday, 12 November 2023 - 13:56 WIB

6 Kuliner dan Makanan Khas Musi Rawas Yang Wajib Anda Coba

Sunday, 5 November 2023 - 01:26 WIB

Bupati Ratna Machmud Tutup Musi Rawas Festival Tahun 2023

Monday, 12 June 2023 - 12:15 WIB

Satu Rumah Panggung Di Selangit Ludes Terbakar

Sunday, 21 May 2023 - 00:56 WIB

Bupati Musi Rawas Serahkan Bantuan Pembangunan Masjid Sebesar 50juta dan Santunan Anak Yatim

Monday, 17 April 2023 - 06:05 WIB

Polres Musi Rawas Amankan Pencuri Buah Kelapa Sawit

Friday, 31 March 2023 - 17:07 WIB

Bupati Musi Rawas Hj. Ratna Machmud melantik 215 Pejabat

Wednesday, 29 March 2023 - 03:27 WIB

Bupati Musi Rawas Serahkan bantuan Korban Banjir di Desa Semangus

Wednesday, 29 March 2023 - 03:19 WIB

Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Kabupaten Musi Rawas Tahun 2022 Peringkat Pertama Se Sumsel

Berita Terbaru

Sumsel

Lempok Durian Camilan Khas dari Sumatera Selatan

Friday, 5 Jul 2024 - 10:57 WIB

Food & Travel

Mengenal “Kudok” Senjata Tradisional Khas Sumatra Selatan

Friday, 5 Jul 2024 - 10:38 WIB