Tradisi Upacara Adat Mandi Kasai di Lubuklinggau

Sunday, 30 June 2024 - 09:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Upacara adat Mandi Kasai merupakan salah satu tradisi pernikahan yang kaya akan makna di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Tradisi ini mencerminkan warisan budaya yang telah diwariskan turun-temurun dan tetap dijaga hingga kini. Berikut adalah uraian lengkap mengenai upacara adat Mandi Kasai, termasuk tahapan pernikahan yang menyertainya:

Tahapan Pernikahan di Lubuklinggau

Pernikahan adat di Lubuklinggau terbagi menjadi tiga tahapan utama: sebelum pernikahan, upacara pernikahan, dan sesudah pernikahan. Setiap tahapan memiliki serangkaian prosesi yang harus dilalui oleh kedua calon pengantin.

A. Persiapan Sebelum Pernikahan

1. Pergaulan Muda-Mudi

Seperti pada umumnya masyarakat, sebelum mencapai tahap perkawinan, biasanya diawali dengan perkenalan antara bujang (laki-laki yang belum beristri) dan dere (perempuan yang belum bersuami). Bila keduanya merasa cocok, perkenalan ini akan berlanjut ke proses pacaran yang disebut basindo.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertemuan bujang dan dere seringkali bermula dari acara sedekah perkawinan atau pesta malam, yang disebut deker. Saat hari bermasak dan pesta malam, rombongan bujang dari dusun-dusun sekitar datang membantu, dan inilah saat pertemuan antara bujang dan dere terjadi, disebut setempat bujang ngandon. Dalam proses basindo, dere memberikan kain kepada bujang yang disukainya. Jika keduanya merasa cocok, kain tersebut akan menjadi milik bujang. Sebaliknya, jika tidak cocok, bujang mengembalikan kain tersebut, yang dikenal dengan istilah ngerendeng.

Basindo biasanya dilakukan di tempat sepi seperti hutan atau tempat wisata, dimana bujang dan dere duduk berdampingan sambil berpantun. Jika mereka serius menjalin hubungan dan sepakat untuk menikah, bujang akan memberi dere sapu tangan berisi uang, cincin (emas atau perak), dan pisau kecil (keris), sebuah tindakan yang disebut merasan.

2. Ngulang Rasan

Ngulang rasan adalah kunjungan pertama orang tua pihak laki-laki ke rumah pihak perempuan untuk melanjutkan niat bujang terhadap dere yang diungkapkan saat basindo. Sebelum pihak bujang datang, dere akan memberitahukan kepada orangtuanya mengenai kedatangan tamu tersebut. Dalam acara ini, pihak bujang membawa tepak, wajik, kue-kue, uang dua kali lipat dari uang basindo, dan sirih masak, yang disebut narok gan.

Baca Juga  Staf Ahli Walikota Lubuklinggau Buka Kejurprov II Paralympic II se-Sumsel

Orangtua bujang akan menanyakan kepada orangtua dere tentang pemberian yang diterima dere saat basindo. Jika keduanya sepakat, hubungan bujang dan dere dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan berikutnya untuk memantapkan ikatan menuju rumah tangga.

3. Tiang Kule

Tiang kule adalah kunjungan tahap kedua, dimana pihak bujang menanyakan kelanjutan dari ngulang rasan untuk menuju tahap yang lebih serius. Pihak bujang membawa serta lurah (Gindo) dan rukun tetangga (Penggawa) sebagai saksi, yang biasanya diberikan uang sebagai tanda terima kasih. Mereka juga membawa makanan berupa dodol, lemang, ayam panggang, pisang mas, sirih masak, sirih setandan, pinang setandan, dan ocor-ocor manis.

Jika pihak dere menerima pemberian ini, mereka resmi bertunangan dan istilah pacaran berubah dari basindo menjadi naek rumah. Selanjutnya, kesepakatan mengenai pintaan pihak dere dibicarakan, yang melibatkan proses bajojo dan teambek anak.

4. Ngantat Dendan

Ngantat dendan adalah pengantaran barang-barang permintaan pihak dere dari pihak bujang, kecuali mas kawin. Acara ini dihadiri oleh Gindo dan Penggawa sebagai saksi. Gindo akan menyampaikan aturan adat bahwa gadis harus dijaga, dan jika berlarian dengan bujang lain, permintaan pihak dere harus dikembalikan dengan jumlah berlipat.

Setelah prosesi tiang kule, calon pengantin harus berpakaian berbeda dengan bujang dere lainnya, dengan calon pengantin laki-laki mengenakan kopiah dan selendang kecil, sementara calon pengantin perempuan memakai selendang lebar dan gelang.

5. Belabu Keje

Belabu keje adalah tahapan dimana pihak dere menjemput calon pengantin pria atau sebaliknya untuk melaksanakan tahapan adat selanjutnya. Setelah penjemputan, tahap berikutnya adalah nentu gawean, dimana kedua belah pihak bermusyawarah menentukan hari pernikahan dan persedekahan. Jika terjadi kesepakatan, mendekati hari pernikahan, kedua mempelai akan kembali ke rumah masing-masing, lalu dijemput oleh kerabat calon pengantin untuk mengikuti tahapan selanjutnya.

Baca Juga  Lempok Durian Camilan Khas dari Sumatera Selatan

B. Tahapan Adat Perkawinan

1. Upacara Nikah

Setelah melewati tahapan-tahapan adat sebelum upacara perkawinan, acara penting dalam prosesi adat perkawinan yakni nikah dilaksanakan. Pelaksanaan nikah umumnya dilakukan di kediaman calon pengantin perempuan. Namun, bila terjadi bajojo (proses negosiasi atau pelarian), nikah dilakukan di kediaman laki-laki.

Jika bajojo terjadi dengan rasan (negosiasi) yang baik, pernikahan boleh dilaksanakan di kediaman perempuan (disebut numpang kawin). Namun, jika bajojo terjadi dengan rasan yang tidak baik (pelarian), nikah harus dilaksanakan di kediaman laki-laki dan calon pengantin perempuan harus tinggal di sana sampai nikah. Pihak laki-laki juga harus membayar lebih besar dari permintaan sebelumnya, biasanya berupa kerbau, keris, jala, dll.

Sebelum nikah, calon pengantin perempuan yang memiliki saudara tua yang belum menikah harus memberikan pelang kahan (perlengkapan) berupa pakaian, kain sarung, ikat pinggang, kopiah, dan sandal untuk saudara laki-laki; pakaian, kain, selendang, sandal, dan perlengkapan pakaian dalam untuk saudara perempuan.

Pada hari pernikahan, mempelai laki-laki hanya membawa mas kawin yang telah disepakati dalam musyawarah sebelumnya (ngulangrasan).

2. Hari Masak

Gotong royong merupakan tradisi yang masih melekat dalam masyarakat adat Linggau. Ini terlihat pada hari bemasak yang dilakukan sehari setelah prosesi pernikahan. Seluruh kerabat, handai taulan, dan warga dusun berkumpul membantu dalam acara perkawinan. Ibu-ibu membawa bahan makanan dan membantu memasak di dapur, sedangkan para bujang dere (pemuda-pemudi) menari, berbalas pantun, dan bersenda gurau.

Orang tua pihak perempuan akan menemui pelara (dukun) untuk persiapan tahapan adat mandi kasai, membawa bahan-bahan yang dibutuhkan untuk upacara.

3. Pesta Malam (Deker)

Setelah bemasak, pada sore hari pengantin laki-laki dijemput untuk mempersiapkan acara malam yakni pesta malam atau deker. Acara ini melibatkan muda-mudi dari dusun setempat dan tamu. Mereka bernyanyi, bersholawat, bermain musik rebana (Saropal Anam), berbalas pantun, dan menari bersama.

Baca Juga  Menjelajahi Keindahan Alam Sumatera Selatan: Wisata Alam yang Wajib Dikunjungi

4. Mapak Sedekah

Persedekahan dilakukan di pagi hari setelah malam deker, tergantung dari kesepakatan tentang bejojo. Arak-arakan dilakukan untuk mempertemukan kedua calon pengantin dalam acara persedekahan.

5. Mandi Kasai

Upacara adat ini dilaksanakan setelah persedekahan, merupakan bagian akhir dari rangkaian upacara adat perkawinan. Mandi Kasai adalah mandi pengantin, dilaksanakan setelah acara persedekahan atau duduk pengantin. Ini menandakan bahwa kedua pengantin melepaskan masa remaja dan memasuki kehidupan berumah tangga dengan segala aturan tak tertulisnya.

Persiapan Mandi Kasai:

  • Keperluan saat mandi di sungai: Tikar purun, mangkok langer berisi jeruk nipis, peliman sirih, bakul kecil berisi sumping, pakaian cadangan, perlengkapan mandi, dll.
  • Pakaian sebelum mandi: Pengantin laki-laki memakai pakaian teluk belango, kain songket, ikat kepala, keris, sandal. Pengantin perempuan memakai kain lasem, kebaya, dan selendang.
  • Pakaian setelah mandi: Pengantin laki-laki dan perempuan mengenakan pakaian adat yang lebih formal dan lengkap.
  • Keperluan di tangga rumah: Tangga lawu, mangkuk tepung tawar, kuas, dan perlengkapan lainnya.
  • Keperluan di dalam rumah: Mangkok tepung tawar, nasi gemuk berkunyit, air minum, nasi tumpeng, dll.

Arak-arakan Menuju Sungai:

  • Pengantin laki-laki dan perempuan diarak menuju sungai dengan pakaian adat.
  • Kedua pengantin berjalan sejajar diapit oleh tua bujang dan tua dere.

Pelaksanaan Mandi Kasai:

  • Kedua pengantin duduk bersimpuh di atas tikar purun, dilanger oleh pelara dengan air jeruk nipis.
  • Setelah pelangiran, dilakukan mandi simburan, di mana air disimburkan ke arah masyarakat yang hadir.
  • Pengantin berganti pakaian, makan sirih, dan pemasangan sumping.

Upacara adat mandi kasai mempunyai makna penting bagi kedua pengantin untuk memasuki kehidupan berumah tangga dengan kesadaran dan kesiapan yang baru, serta mengenal dan diterima oleh keluarga besar masing-masing.

Source : Tata Cara Adat Perkawinan Linggau di Sumatera Selatan

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Pemkot Lubuklinggau Terima Bantuan Benih Cabai dan Bawang Merah dari Pemprov Sumsel
Lempok Durian Camilan Khas dari Sumatera Selatan
Mengenal “Kudok” Senjata Tradisional Khas Sumatra Selatan
Mandi Darah: Tradisi Unik di Desa Pauh, Muratara untuk Membayar Nazar dan Ungkapan Syukur
Tradisi Mandi Pusaka di Sumatera Selatan: Ritual Penyucian Benda Pusaka Penuh Makna
Menelusuri Jejak Puyang di Bumi Seribu Puyang: Warisan Budaya dan Kearifan Lokal di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir
Aksara Komering: Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan
Menjelajahi Keindahan Alam Sumatera Selatan: Wisata Alam yang Wajib Dikunjungi

Berita Terkait

Sunday, 12 November 2023 - 13:56 WIB

6 Kuliner dan Makanan Khas Musi Rawas Yang Wajib Anda Coba

Sunday, 5 November 2023 - 01:26 WIB

Bupati Ratna Machmud Tutup Musi Rawas Festival Tahun 2023

Monday, 12 June 2023 - 12:15 WIB

Satu Rumah Panggung Di Selangit Ludes Terbakar

Sunday, 21 May 2023 - 00:56 WIB

Bupati Musi Rawas Serahkan Bantuan Pembangunan Masjid Sebesar 50juta dan Santunan Anak Yatim

Monday, 17 April 2023 - 06:05 WIB

Polres Musi Rawas Amankan Pencuri Buah Kelapa Sawit

Friday, 31 March 2023 - 17:07 WIB

Bupati Musi Rawas Hj. Ratna Machmud melantik 215 Pejabat

Wednesday, 29 March 2023 - 03:27 WIB

Bupati Musi Rawas Serahkan bantuan Korban Banjir di Desa Semangus

Wednesday, 29 March 2023 - 03:19 WIB

Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Kabupaten Musi Rawas Tahun 2022 Peringkat Pertama Se Sumsel

Berita Terbaru

Sumsel

Lempok Durian Camilan Khas dari Sumatera Selatan

Friday, 5 Jul 2024 - 10:57 WIB

Food & Travel

Mengenal “Kudok” Senjata Tradisional Khas Sumatra Selatan

Friday, 5 Jul 2024 - 10:38 WIB