Oleh: Amelia Cahyanti, Mahasiswa Program Studi Ilmu Politik, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang.
Di Negeri ini, Demokrasi sedang menghadapi ujian yang bertubi-tubi dan muncul di berbagai dimensi. Dalam kehidupan politik negara kelompok Oposisi tentu sangat diperlukan, menentang dan mengkritik kebijakan pemerintah yang berkuasa adalah otoritas dari partai ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Umumnya kelompok ini sangat tegas dalam menyuarakan kebenaran. Mereka kerap mewarnai proses demokrasi, baik pada demokrasi yang berjalan dalam lingkup parlemen ataupun birokrasi lainnya. Oposisi kemudian dapat diartikan sebagai posisi berseberangan dari pemerintahan, atau sebagai partai politik yang berlaku sebagai penentang di dewan perwakilan.
Mereka yang menjadi oposisi merupakan gabungan partai dengan posisi di luar koalisi pemerintah dalam suatu periode tertentu. Pada konsep pemerintahan demokrasi parlementer dan presidensial maka keberadaan oposisi penting sebagai kelompok pengawas dan pengimbang (check and balances) kebijakan pemerintahan serta eksekutif. Peran oposisi dalam suatu pemerintahan sendiri sangat penting dalam mencegah praktik penyalahgunaan kekuasaan yang akan mengarah kepada pemerintahan otoriter dan oligarkis.
Ketiadaan oposisi memperhadapkan pemerintah dan masyarakat secara diametral. Suara berbeda yang seharusnya diartikulasikan oleh kelompok oposisi di parlemen justru diartikulasikan oleh massa di medsos dan di jalanan melalui demonstrasi. Mendung politik agaknya tengah berlangsung di Republika kita, fenomena-fenomena politik yang terjadi mempertontonkan kehidupan demokrasi yang tidak sesuai dengan judulnya. Di pandang dari etika demokrasi, politik oposisi dapat dikatakan sebagai kegiatan parlementarian yang paling
Halaman : 1 2 Selanjutnya